Riset Islam Web Blog


Hanya Perbedaan Sudut Pandang by passya
Februari 4, 2007, 1:13 pm
Filed under: KONTROFERSI ISLAM, OPINI MEREKA, PERTANYAAN PENTING?

Saya hanya bermaksud mengomentari tulisan: Apakah Itu Jamaah Tabligh, Salafy, Hizbut Tahrer dan Jamaah Islamiyah?

Terlepas dari organisasi Islam apa yang Anda masuki, Saya yakin itu adalah bagian dari semangat Anda untuk meningkatkan ilmu. Perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam tiap-tiap organisasi itu idealnya semakin menumbuhkan keinginan untuk terus dan terus menggali ilmu lebih dalam.

Perbedaan sebagai rahmat
Seyogyanya kita menyikapi perbedaan itu sebagai perbedaan sudut pandang saja, tidak terlalu prinsip. Analoginya, seperti saat orang Indonesia berbeda pendapat dengan orang Inggris soal letak Timur Tengah. Orang belahan barat menyebut negara-negara Arab itu di Timur Tengah. Apakah orang Indonesia juga menyebut demikian? Semestinya Arab itu berada di Barat Tengah dipandang dari letak Indonesia. Mana yang salah dan mana yang benar? Sekali lagi, ini masalah perbedaan sudut pandang.

Ke depan kehidupan beragama semakin beragam dan terbuka. Era informasi membuat sesuatu menjadi lebih mudah, cepat, bebas dan tidak terkendali. Apabila umat Islam terutama di Indonesia masih menutup diri, tidak berbenah dan hanya berkutat dengan masalah internal yang saya sebut tadi sebagai perbedaan sudut pandang, dipastikan kita akan semakin jauh tertinggal.

Pandangan sempit dan pembatasan menjadi Islam yang seutuhnya merupakan langkah mundur. Gerakan-gerakan yang berusaha menjaga kemurnian al qur’an seharusnya menjadi gerakan moral, bukan tujuan akhir. Mengaplikasikan Al qur’an dan hadis dalam kehidupan yang semakin kompleks jauh lebih penting.

Memahami Al qur’an dengan cerdas dan bijak
Jika kita masih meyakini bahwa Al qur’an itu adalah solusi dan Islam itu rahmatan lil alamin, maka sebarkanlah kedamaian di setiap penjuru kehidupan. Kekerasan bukanlah solusi yang diajarkan oleh Al Qur’an. Jika ada ayat yang menyatakan untuk memerangi orang-orang kafir, periksa sekali lagi ayat tersebut. Kapan, untuk apa ayat tersebut turun. Periksa lagi apakah ada ayat lain yang memperkuat ayat tersebut atau malah ada ayat yang me-nasakh-nya.
Setelah itu, ingat juga riwayat kehidupan rasulullah. Bagaimana saat beliau dikejar-kejar dan bersembunyi di Gua Hira. Bagaimana beliau memasuki kota Madinah untuk menyampaikan syi’ar Islam. Bagaimana saat beliau memasuki kembali Kota Mekah. Apakah beliau mengobarkan kekerasan?

Itulah mengapa kita harus mengetahui apa yang kita ucapkan. Bukankah mulut kita selalu mendahulukan kedamaian dengan ‘Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh’? Mengapa juga banyak dari kita dengan perilaku bertolak belakang dengan salam tadi?

Bekasi, 04-02-2007
p.a.s.s.y.a


26 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Setuju sekali. Sepakat dengan pendapat Mas Passya tentang cara menyikapi perbedaan dan juga tentang perdamaian (sebagai implikasi dari Islam sebagai rohmatan lil ‘alamin)

Komentar oleh de King

jika memang perbedaan sudut pandang, kenapa mereka saling menjatuhkan, terutama –maaf– dari Kelompok Salafy

Komentar oleh haniakasim

Hmmm…yang saya tau, menurut Salafy, mereka memang harus berlaku lembut thd orang kafir dan berlaku keras terhadap ahlul bid’ah, dengan alasan kekerasan yang mereka lakukan adalah tanda sayang dan kepedulian. betul tak?

Komentar oleh joesatch

Kadang (sering) memang susah untuk menyeimbangkan antara teori dan praktik…
Secara teori tahu tentang (+) tapi pada kenyataannya yang dipraktekkan adalah sesuatu yang (-)…alias bertolak belakang…
Kadang saya berpikir sebenarnya yang berusaha saling menjatuhkan itu kelompoknya atau oknumnya alias segelintir orang yang mengaku anggota suatu kelompok…
Jangan-jangan kita telah salah telah melakukan generalisasi pada beberapa hal…
Alangkah indahnya kalau teori yang diberikan Mas Passya di atas bisa dipraktekkan…

Komentar oleh de King

Perbedaan pandangan, pemikiran itu wajar. Masing-masing orang akan mendefinisikan sesuatu yang dia ketahui berdasarkan sudut pandang dia melihatnya.

Perdebatan antara dua pandangan itu juga merupakan hal yang wajar, asalkan masih dalam batas-batas wajar.

Komentar oleh ressay

Yang harus dihindari adalah saling menjelekkan, bukankah ketika ia menjelekkan jamaah lain, berarti ia juga sama jeleknya?

Heran juga, kenapa para pemimpin jamaah2 tersebut tidak bertemu untuk segera menyelesaikan masalah yang berlarut2 ini? Apakah harga diri jamaah lebih penting dari masalah umat?

Komentar oleh ananta

Berhati-hatilah dalam menyimpulkan. Seringkali kita temui pengikut yang tidak tahu apa-apa tentang hakikat organisasinya, atau pengikut yang menjadi oknum, sehingga perbuatannya yang negatif (yang sesungguhnya bukan visi dan misi organisasi tersebut) malah dinisbatkan kepada organisasinya.

Mas Joesatch juga harus berhati-hati. Saya sering menemui orang salafy yang tidak seperti mas Joesatch katakan. Mereka bahkan menentang sikap kasar dalam berdakwah. Walaupun mungkin ada segelintir oknum yang baru belajar lalu emosional mengkritik sana-sini dengan cara yang tidak mengenakkan hati. Dan perlu diketahui, ternyata salafy itu bukanlah organisasi. Tetapi pengajian-pengajian yang memiliki cara pandang generasi Islam awal (“salaf”).

Komentar oleh samosir

hehehe…saya baca sendiri dari sebuah blog yang pemiliknya mengaku bermanhaj salaf, kok. sekali lagi, blog yang pemiliknya “mengaku” bermanhaj salaf!

Komentar oleh joesatch

mas Joesatch bisa minta alamat Blogs yang mas maksud??

Komentar oleh haniakasim

antosalafy.wordpress.com
kebetulan nama saya dan tandem saya, wadehel, sedang dibahas oleh beliau😀

Komentar oleh joesatch

tidak perlu terlalu ‘diurusi’ sebetulnya model orang seperti itu, kenapa tidak kita ‘lawan’ dengan menunjukkan bagaimana kepribadian salaf yang sejati😉 ?

Komentar oleh ananta

Afwan sedikit ingin memberikan informasi:

melihat tindakan beberapa orang yang mengaku “Salafy” di blogs ini. Sungguh sangat menyedihkan. Saya hanya ingin menginformasikan sebuah hal yang berkaitan dengan Salafy yang telah saya yakini dan jalani kehidupan Manhaj yang mulia ini selama ini:
1. Manhaj Salafy bukanlah Manhaj atau metode dimana seseorang diajarkan mencaci maki maupun suka menghujat orang lain, tetapi manhaj yang mulia ini mengajarkan kita untuk semakin BerTaqwa dan BerIman dengan Ilmu yang Haq dan Lurus. Yang paling penting mengamalkannya bukan membicarakannya, menghantam sana sini ataupun sejenisnya.
2. Manhaj salafy sangat memperhatikan sunnah, jadi sangat disunnahkan kita memakai pakaian seperti Jubah dan sejenisnya tentunya dengan tujuan hanya karena Alloh bukan hanya karena dianggap “BAIK BENAR HEBAT DLL”
3. Muslimah haruslah menutup aurat jadi jika ada yang memakai pakaian yang mungkin sebagian masyarakat beranggapan “berlebihan” adalah hal yang wajar dan para penjunjung Dakwah salafy harus Sabar dan tetap tersenyum. Bukan malah menghujat sana sini.
4. Klarifikasi Tentang Al-Ustadz Ridwan Hamidi Lc. Beliau adalah seorang Ustadz Salafy yang Tsiqoh (terpercaya), Mulia Akhlaqnya, Mudah tersenyum pada siapapun termasuk orang yang suka menghujat tersebut. Kebencian mereka yang paling utama adalah karena Hasad, Iri dan Dengki. Mereka mendapatkan kabar “Hitam” yang dirancang mereka dari “Yahudi dan Nasarani” untuk menjatuhkan Sang Ustadz yang terkenal sangat dipercaya oleh banyak kalangan mulai dari Ulama sampai masyarakat yang sangat tidak mengenal agama (hal ini karena Ilmu dan Amalannya dan Niatnya yang sesuai dengan Syariat Islam). Jadi sangat banyak orang-orang yang suka HUJAT-HUJATAN, KOTAK-MENGKOTAK dan MERASA BENAR SENDIRI ingin “membunuh” Dakwah Beliau yang sangat Mulia dan Lembut.

Komentar oleh Irwansyah

Beginilah seharusnya dakwah itu, bukannya menhujat dan memaki… bethull tidak???!!!

Komentar oleh rile

Rasulullah dan shahabat adalah seorang yang lemah lembut kepada saudaranya dan keras kepada orang kafir, itu sebabnya ukhuwah islamiyyah selalu kuat dan terjaga… namun ketika sikap keras dan cenderung kasar itu ditujukan kepada saudaranya sendiri, hanya perpecahan yang akan timbul karnanya…

Komentar oleh Heri Setiawan

salafi = salah fikir

Komentar oleh abdul hadi

Karena perbedaan pandangan tanda dengan landasan agama, kesannya yg berbeda pandangan adalah penentang agama, termasuk orang kafir, atau musrik, atau munafik. wajib diperangilah !.

itu yang sulit mendekatkan perbedaan yang satu dengan yang lainnya.

Komentar oleh papabonbon

jika kita ingin mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sebagaimana dilakukan oleh generasi salaf, marilah kita contoh syari’ah beliau sekaligus akhlaq beliau. tidaklah mungkin menegakkan sunnah dengan cara2 yang tidak sunnah, tidaklah mungkin menegakkan sunnah dengan menentang ayat Al Quran. Berhati-hatilah dalam bersikap, tanyakan pada dirimu : Apakah Rasulullah SAW bersikap seperti anda dalam berdakwah? bukankah beliau orang yang paling takut enyakiti orang lain?, atau jangan2 setan menguasai hati kita? Ingatlah, QS 49:11 Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.

Komentar oleh santoz

wah saya ngga setuju nih kalo dikatakan perbedaan adalah rahmat?

berarti kebalikannya persatuan adalah azab donk?

mohon diperinci perbedaan yg seperti apa yg dimaksud?

ada yg bisa membantu?

Komentar oleh yaufani

Maaf nih, untuk Saudara Yaufani, pertanyaan itu adalah pertanyaan basi yang biasa dilempar oleh salafy. (Sekali lagi saya minta maaf). Dan ini sudah menjadi perdebatan di kalangan aktivis dakwah tentang perbedaan yang bisa dianggap rahmah ini. Kata kuncinya adalah: persatuan lawan dari perbedaan. (ingat kita sudah belajar bahasa indonesia tentang lawan kata ini). Bukan perbedaan. Kebalikan dari perbedaan adalah persamaan. Dan inpun tidak bisa langsung dijadikan sebagai antonim bahwa berarti persamaan adalah bukan rahmah.
So, pertanyaan Anda akan membawa kembali kepada debat seperti salafy yang biasa lakukan. Seribu permintaan Maaf dari saya. Kalau ada yang salah-salah kata.🙂

Komentar oleh riza

Melihat “perbedaan” yg ada di dunia ini saya sendiri tdk dpt menghitungnya saking banyaknya perbedaan. Perbedaan faham (agama, politik dll), warna dialam semesta, belum aspek kehidupan lainnya. Jadi saya sependapat dgn “perbedaan itu rahmat” dari Allah. Karna kalau kita selalu positif memandangnya dari perbedaan itu muncul keindahan, muncul pemikiran yg genius dan bermanfaat buat kehidupan manusia tanpa memandang agamanya. Jadi dari itu, yg sangat perlu kita kerjakan adalah menunjukkan Islam itu terbaik tdk ada lain : “Tunjukkan akhlaq yang mulia” yg bermanfaat bagi manusia, bukan yg membawa mudharat. Soal agama siapa yg paling benar, biar itu menjadi wewenang Allah yg menentukan karna agama itu berasal dari Dia. Kita manusia hanya berusaha mempelajari kebenarannya menurut keterbataan kita sendiri. Kita hormat dan menghormati keyakinan org lain yg tdk seagama. Oleh karna itu diperlukan “modus vivendi” dan kesepakatan untuk hidup saling menjaga kehormatan masing-masing. Disitulah peran negara dan pemerintahnya bermain. Agar semua umat beragama dpt merefleksikan keyakinan agamanya dengan baik dan dapat berkontribusi untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Biarkan Allah yg menilai siapa yg paling baik a’malnya.

Komentar oleh Abu Muslih

akhi, jangan disalah kaprahkan salafy dengan beberapa oknum yang mengatasnamakan salafy lalu kasar, salafy itu adalah islam itu sendiri jadi kita harus mengikut salaf (orang saleh terdahulu yaitu rasulullah dan dari kalangan sahabat beliau tabin, atbauttabiin dan orang yang mengikutinya dengan baik. Ustadz Ridwan Hamidi Hafidhahullah adalah salah seorang contoh salafi terbaik di kota yogyakarta patut menjadi contoh dalam kemulian aqidah dan akhlaknya, saya saja yang dari Makassar sul-sel merasakan kemuliaan akhlaknya ketika beliau berinteraksi dan berkunjung di tempat kami. Fahd Abdullah. bila ada konfirmasi (fahd_aldury@yahoo.co.id)

Komentar oleh fahd

Bukan ta’assub sama ustad Ridwan ya! Tapi kami mencintainya karena Allah. iya, karena kesalafiannya terlihat dari ketawadhuannya keluhuran budinya, dan kejernihan aqidahnya. nggak suka hujat sana sini tanpa dalil. makanya kalo kamu mau ngaji salaf insya Allah untuk wilayah Jogja beliaulah salah seorang dai’/ustadz yang sangat tepat. FAHD di Sulawesi Selatan,Saudaranya Ustad Ridwan karena Allah.

Komentar oleh fahd

akhi, jangan mengukur kesalafian seseorang dari memakai jubah atau tidaknya ya! memnag sunnah tapi bukan keharusan karena pakaian muslim indonesia juga bisa menjadi sunnah bagi orang indonesia.

Komentar oleh fahd

yang ana pahami adalah kita harus merujuk pada pemahaman para sahabat dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah jika kita tidak ingin berpecah belah dalam agama ini, hal ini terbukti dengan berpecah belahnya umat ini disebabakan itu tadi…tidak merujuk pada para sahabat dalam memahami Al-kitab dan Assunnah

Komentar oleh abdurrahman ever

agama itu adalah hasil dari bentuk tafsir terhadap keyakinan atas Tuhan. dan setiap oang berhak untuk menafsirkan tentang tuhan…termasuk Nabi Muhamad. jadi Nabi Muhamad itu dipercaya oleh islam sebagai sambungan tangan dari tuhan. tapi jika dilihat dari sudut pandang sejarah bahwa pancama veda yang merupakan kitab suci agama hindu termasuk diantaranya Bhagawadghita lahir setelah orang menafsirkan tuhan sekitar 5000 tahun lalu, budha 2500 tahun, injil 2000 thaun dan terakhir al-qur’an yang merupakan satu aliran dengan injil. jadi bisa dibilang kitab suci setelah veda lahir setelah orang mencoba menafsirkan veda itu sendiri, dimana ada orang yang bisa menafsirkan secara utuh dan ada juga yg tidak tergantung kemampuan individu masing-masing.
sekarang ada orang yang meyakini bahwa agamanyalah yang paling sempurna sementara dia tidak faham dan tahu fakta nya seperti apa, dan mengatakan bahwa yang berbeda pandangan sebagai kuam tertentu….dan banyak yang menganggap bahwa orang yang menafsirkan kitab sucinya dan tidak sefaham dengan penafsir itu dikatakan akan masuk neraka. pertanyaannya : apa , seperti apa, dan dimanakah neraka itu…? banyak orang menafsirkan neraka itu adalah tempat terkutuk dialam setelah kematian, sementara kita tidak tahu alam kematian itu seperti apa….!!! bagaimana kalau kita balik penafsiran kita tentang itu yang didasari oleh konsep jiwa atau roh yang diyakini oleh setiap agama bahwa itu ada. katakanlah roh itu berasal dari dunia ketuhanan yang mana dia terlahir sebagai manusia untuk menjalankan hukuman untuk memperbaiki keberadaannya, maka akan diperoleh kesimpulan bahwa neraka itu adanya di dunia kita saat ini…yaitu neraka adalah kehidupan manusia yang menderita dan sengsara sementara sorga adalah kehidupan manusia disaat berbahagia dan sejahtera, oleh karenanya hidup manusia itu tidak ada yang sempurna selalu ada dua hal baik dan buruk, dan ketika orang mendapati kebahagian terus menerus barulah dia akan terbebas dari kesengsaraan ( neraka ) yang mana sangat ditentukan oleh prilaku kita pada saat menjalani hukuman ( hidup ) didunia. dan hal ini sangat masuk akal jika kita hubungkan dengan konsep reinkarnasi ( hukuman) untuk terlahir dan menjalani hidup sebagai manusia. untuk menjalankan hukuman ini kita harus berpegang pada prinsip ketuhanan dimana disetiap individu akan disertakan bibit sifat-sifat tuhan ketika menjalani hukuman ( hidup ) untuk dikembangkan semaksimal mungkin agar bibit itudapat tumbuh menjadi tuhan itu sendiri, dan itulah pencapaian tertinggi manusia yang dikenal sebagai MOKSAH dimana Roh tidak akan terlahir lagi sebagai manusia untuk menjalani hukuman.
ada yang bilang bahwa Nabi itu utusan tuhan……kalau memahami uraian diatas ada pertanyaan yang muncul, apakah Nabi itu Tuhan ? tentu jawabanya tidak…dan kalau tidak apakah Nabi itu menafsirkan tentang tuhan secara sempurna ? juga tidak. maka terdapat kesimpulan bahwa orang yang menganggap orang lain berbeda keyakin sebagai kaum kafir sangatlah tidak bijaksana dan sangat jauh dari sifat-sifat ketuhanan yang kita tuju.
Banyak juga yang mengatakan bahwa agama tertentu menyembah berhala….maka muncul pertanyaan : kemanakah kiblat anda saat bersembahyang…? ada apakah di arah kiblat itu…? dan apakah kiblat yang dituju itu tuhan..? jawabanya tentu TIDAK. nah sekarang apakah perbedaan antara berhala yang anda anggap digunakan orang itu sama ataukah beda dengan yang anda punya …? sementara dikeyakinan lain menganggap bahwa yang dikatakan berhala itu hanyalah MEDIASI bukan sebagai Tuhan, sama hal nya dengan jika anda ingin berkomunikasi dengan orang yang jauh disana dan tak terlihat didepan kita, tentu anda harus menggunakan media entah itu surat, email, ataupun handphone, ketika anda memerlukan mediasi tersebut apakah anda ingin dianggap berkomunikasi dengan handphone atau mediator nya? tentu tidak, karena sejatinya anda ingin berkomunikasi dengan orang yang jauh tersebut. maka anda dapat simpulkan sendiri dan fahami penafsiran anda tentang agama terlepas benar atau tidaknya agama anda dengan yang lain karena AGAMA sejatinya juga sebagai mediasi untuk mencapai sifat-sifat ke Tuhanan untuk tidak menjalani hukuman ( hidup ) sebagai manusia.

Komentar oleh eka dwita




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: